Gamelan Degung : Clarisa Liana Setiawan : 8B
Gamelan Sunda atau Degung adalah ansambel musik tradisional asal Jawa Barat. Saat ini gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda ini telah berkembang dengan pesat. Alat musik ini terdiri dari suling degung, rebab, kecapi, bonang, kulanter, jengglong, saron, gambang, panerus, gong, dan kendang. Penambahan suling, kendang dan rebab dikarenakan adanya kebutuhan musikal. Suara mendayu-dayu dari alat musik suling dan rebab yang lebih mendominasi dari gamelan menjadi ciri khas Gamelan Sunda.
Kata Degung untuk menyebut Gamelan Sunda konon berasal dari kata Ratu-agung atau Tumenggung, karena masa itu Gamelan Degung sangat digemari oleh para pejabat. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Degung berasal dari kata “Deg ngadeg ka nu Agung” yang mengandung pengertian kita harus senantiasa menghadap (beribadah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika dihubungan dengan kirata basa, istilah degung berasal dari kata “ngadeg” yang berarti berdiri dan “agung” berarti megah atau “pengagung” yang berarti bangsawan (menak). Jika merujuk pada teori tersebut, kesenian degung ini digunakan bagi kemegahan atau keagungan martabat kaum bangsawan. Dalam bahasa Sunda banyak terdapat kata-kata yang berakhiran "gung" yang artinya menunjukan tempat/kedudukan yang tinggi dan terhormat. Istilah Degung memberikan gambaran kepada orang Sunda sebagai sesuatu yang agung, dan terhormat yang digemari oleh Pangagung.
Gamelan Sunda diperkirakan mulai berkembang sekitar akhir abad ke-18 atau awal abad ke 19. Dalam buku Jaap Kunst yang berjudul Toonkunst van Java (1934), saat itu tercatat ada 15 perangkat gamelan yang tersebar di seluruh pulau Jawa, termasuk 5 perangkat yang berada di Bandung. Tidak ada literatur yang dapat menerangkan secara pasti kapan gamelan masuk ke tanah Sunda. Naskah Sang Hyang Siksa Kanda Ng Karesian, menyebutkan bahwa gamelan mulai masuk ke tanah Sunda sekitar abad ke 16. Dalam perkembangannya Gamelan Sunda mengalami perubahan seperti penambahan nyanyian dalam permainannya. Hal itu ternyata sempat dilarang oleh Bupati Cianjur RT Wiranatakusumah V (1912-1920), karena menurutnya dapat menghilangkan esensi keheningan serta menjadi kurang khidmat.
Ada tiga jenis gamelan di tanah Sunda, yaitu gamelan renteng, gamelan salendro atau pelog, dan gamelan ketuk tilu. Gamelan salendro biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari-tarian, serta kliningan. Gamelan salendro menjadi gamelan yang paling populer di antara jenis gamelan lainnya, karena merupakan gamelan yang paling sering digunakan dalam berkesenian. Gamelan renteng berkembang di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kemungkinan besar gamelan sunda yang sekarang berkembang bermula dari gamelan renteng. Gamelan ketuk tilu biasanya digunakan sebagai musik pengiring ketuk tilu, ronggeng gunung, ronggeng ketuk, doger, dan topeng banjet.
Komentar
Posting Komentar